AGENPLAY88 x markorensheindds.com Cara Merawat Gigi yang Benar Menurut Data WHO & Kemenkes
Kalau ada satu penyakit yang paling banyak diderita manusia di seluruh dunia, jawabannya bukan flu, bukan diabetes, dan bukan hipertensi. Jawabannya adalah gigi berlubang. AGENPLAY88 x markorensheindds.com hadir memberikan informasi lengkap tentang perawatan gigi dan mulut berdasarkan data WHO dan Kemenkes.
Menurut data Global Burden of Disease 2021 yang dirilis WHO, gigi berlubang yang tidak dirawat pada gigi permanen adalah kondisi kesehatan paling umum di dunia. Total ada sekitar 2,24 miliar kasus. Secara keseluruhan, penyakit gigi dan mulut menyerang hampir 3,7 miliar orang — lebih dari sepertiga penduduk bumi. Yang membuat angka ini menyakitkan bukan besarnya, tapi ironinya: hampir semuanya bisa dicegah.
Situasi di Indonesia: Banyak yang Sakit, Sedikit yang Berobat
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan RI menemukan bahwa 56,9% penduduk berusia 3 tahun ke atas mengalami masalah gigi dan mulut dalam satu tahun terakhir. Artinya lebih dari separuh orang Indonesia. Tapi ini bagian yang paling perlu digarisbawahi: hanya 11,2% dari mereka yang benar-benar mendapat penanganan dari tenaga medis gigi.
Selisih itu — lebih dari 45% populasi yang mengeluh sakit tapi tidak berobat — adalah gambaran paling jujur tentang budaya perawatan gigi kita. Sakit ditahan, dikumur air garam, dikasih obat warung, lalu dilupakan sampai kambuh lagi. Padahal ada data lain yang lebih mengejutkan. Riskesdas 2018 mencatat bahwa 93,6% masyarakat Indonesia sudah menyikat gigi setiap hari, tapi hanya 2,8% yang melakukannya di waktu yang benar — yaitu pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Jadi masalahnya bukan malas. Masalahnya adalah caranya salah.
Kenapa Gigi Bisa Berlubang? (Penjelasan yang Jarang Diberitahu)
Banyak orang mengira gigi berlubang disebabkan oleh "cacing gigi" atau semata-mata karena makan permen. Keduanya keliru. Gigi berlubang atau karies terbentuk lewat proses berantai:
- Sisa makanan menempel. Terutama karbohidrat dan gula sederhana — nasi, roti, biskuit, minuman manis.
- Bakteri di mulut memfermentasinya. Bakteri seperti Streptococcus mutans memakan gula itu.
- Bakteri menghasilkan asam. Asam inilah pelakunya, bukan gulanya langsung.
- Asam melarutkan mineral email gigi (demineralisasi). Email adalah lapisan terkeras di tubuh manusia, tapi ia larut di pH rendah.
- Kalau demineralisasi lebih cepat daripada remineralisasi, terbentuklah lubang.
Poin nomor 5 penting sekali. Tubuh Anda sebenarnya punya mekanisme perbaikan — air liur mengandung kalsium dan fosfat yang mengembalikan mineral ke email. Fluoride mempercepat proses ini. Artinya, frekuensi lebih berbahaya daripada jumlah. Satu potong kue yang dimakan sekali habis lebih aman daripada satu potong kue yang dicicil sepanjang sore, karena yang kedua membuat mulut Anda asam terus-menerus selama berjam-jam.
WHO sendiri menempatkan konsumsi gula bebas sebagai faktor risiko utama karies, dan merekomendasikan pembatasannya di bawah 10% dari total asupan energi harian — idealnya di bawah 5%.